Bab 4
Gerbang Berbicara
[SYSTEM NOTICE]
STATUS: JIWA "THE FALLEN ONE" — REKONSILIASI BERLANJUT
REKON: 5,4%
CATATAN: Gerbang berkedip dua kali dalam satu malam. Tidak ada catatan kedip ganda di nadir kota ini.
Malam itu aku nggak bisa tidur.
Bukan karena omongan Rama yang masih nempel. Tapi karena satu detail yang dia sengaja nggak jawab: orang yang "buka dari dalem". Kalau gerbang ini dibuka buat nyari aku, dari dalem — berarti gerbang udah bisa dilewatin dari arah sebaliknya. Empat tahun, orang-orang ngejaga gerbang sebagai pintu masuk pahlawan. Nggak ada yang mikir kalau gerbang itu juga pintu pulang buat sesuatu.
Atap menara. Dingin, dan sepi, dan aku yang paling sadar. Aku minta network nyebar tiga pertanyaan ke mana-mana, diam-diam:
Satu — sejak kedip pertama, ada yang ngaku ngerasain apa-apa? Dua — malam gerbang kedip, siapa yang lagi jaga, dan ngapain dia jam itu? Tiga — siapa yang pernah mimpi bolak-balik dari arah dalem kota ini.
Jawaban dateng dua hari.
Satu: pahlawan kelas bumi yang seru-seruan pamer api tadi — nama lengkapnya Vita — ngaku ngerasa ada yang narik dia dari dalam perut. Nggak sakit. Kata-kata dia: "tangan yang pegang barang kepalang lama, terus dibuka."
Dua: penjaga gerbang shift malam cuma satu orang. Tua, ngantuk, udah kerja tiga puluh tahun. Dia nggak liat apa-apa. Tapi dia bilang satu hal yang bikin aku berenti:
"Kerisik itu. Dengerin. Empat tahun, gerbangnya paling diem. Semalem dia kerisik dua kali — cuma Aku yang denger soalnya aku yang paling deket."
Tiga: nggak ada yang mimpin temuan soal mimpi. Kecuali — satu nama.
Rama.
[JENDELA KARAKTER — VITA (PAHLAWAN KELAS BUMI)]
[Tinggi: ±159 cm — kecil, tapi punggung selalu tegak]
[Rambut: pirang keemasan panjang, diikat tinggi paselagi kerja]
[Mata: biru muda — mudah ketawa, dan mudah percaya]
[Pakaian: seragam kelas Bumi yang dia ubah warnanya sendiri biar kelihatan beda]
[Kekuatan: api di telapak tangan — tapi bukan itu yang bikin dia istimewa]
"Kau yakin mau ngejar yang ini?" suara Echo dari bayangan, datar kayak biasa.
"Kenapa enggak."
"Karena yang kau ngejar bukan Rama. Kau ngejar jawaban di dalem kepalanya — dan kepala orang dari bumi itu belum tentu isinya jujur. Dia bisa aja bagian dari yang "menunggu" itu."
"Justru itu," kataku. "Kalau dia bagian dari pintu, dia yang paling tau cara bukanya. Dan aku mau tau cara bukanya sebelum dia mau kebuka."
Echo diem sebentar. "Aturanmu:"
"Aku yang nentuin siapa yang boleh gerak."
"Dia gerak, dan kau cuma nangkep." Echo ngantuk, atau pura-pura ngantuk. "Beda."
Aku ketemu Rama lagi — bukan di kedai. Di lantai tiga gedung kosong yang network sebut sebagai tempat dia numpang tidur. Dia lagi duduk deket jendela, buku di pangkuan.
"Aku tau kamu bakal dateng," katanya. "Tapi aku nggak nyangka secepat ini."
"Dua belas jam sejam," jawabku. "Gerbang kerisik dua kali, dan kamu cuma diem."
"Kamu mau aku ngapain? Nangis? Bilang takut? Aku cuma baca."
"Dari buku apa?"
Dia nutup bukunya. Halaman depannya emas, nggak ada judul. "Bukan dari bumi. Bukan dari sini. Aku nemu di laci kosong pas gerbang pertama kedip."
"Laci kosong?"
"Di kamar asrama kelas Bumi. Semua orang udah beberes sejak empat tahun, kamar aku yang paling gak disentuh. Laci paling bawah, kosong — tapi ada buku ini. Kamu mau baca?"
Aku nggak mau. Nggak perlu. Yang aku mau satu kalimat:
"Kalau kamu dari bumi, kenapa buku ini nyambung sama gerbang?"
Rama buka buku di tangannya, balik ke satu halaman. "Soalnya di halaman ini, ada namamu."
Dia ngasih aku lihat sekilas — setengah halaman, tulisan tangan dari tinta yang beda-beda umurnya. Nama "Nocturne" — ditulis dua kali. Pertama gede, tega, hampir nyilet kertas. Kedua pelan, kayak orang yang lagi ragu.
"Kau nggak pernah nulis ini?"
"Nggak," kataku pelan. Tapi jari udah bergerak duluan — nembus celah aturan otomatis. Aturan ngebuka, ngelewatin begitu aja.
Echo di atap. Di gerbang, buat ketiga kalinya malam ini — berkedip.
[SYSTEM NOTICE]
PERINGATAN: GERBANG KEDIP KETIGA — POLA AKSES BERUBAH
CATATAN: Siapa pun yang "ngegenggam" dari dalam udah nyasar ke jaringmu. Nama itu surat balasan — bukan undangan.
"Buku ini," kata Rama, pelan, "dimasukin ke laci pas gerbang pertama kedip. Bukan buat dibaca. Buat dicari. Buat dikasih ke orang yang tau namanya. Dan aku tau satu-satunya orang di kota ini yang bakal ngenalin nama itu."
"Rama," aku gedor. "Kamu mimpi apa tadi malam?"
Dia berenti. Lama. "Aku mimpi kamar gelap. Pintu di ujung. Ada yang ngomong: Kasih tau dia. Dia yang aku tunggu. Bukan buat buka gerbang — biar dia tau pintu udah kebuka dari dalam."
Di gerbang, kedip keempat. Kali ini dua kali berturut-turut.
"Aku harus pergi," kataku.
"Ke mana?"
"Nyari tau kenapa buku ini nyebut namaku dua kali — dan kenapa yang kedua hidungnya berhenti di tengah huruf."
— AKHIR BAB 4 —