Bab 5
Yang Menunggu
[SYSTEM NOTICE]
STATUS: JIWA "THE FALLEN ONE" — REKONSILIASI BERLANJUT
REKON: 6,0%
CATATAN: Nama kedua pada buku berhenti di tengah huruf. Tangan yang menulisnya dipotong sebelum selesai — di kehidupan yang sama, jauh di dalam.
Aku habiskan seminggu di bawah. Bukan di kota — di lembah yang orang-orang bilang "bekas daun": dua puluh menit dari Hothwood, lantai tanah yang pernah jadi sungai. Tiga gua, semua nempel di arus yang udah mati. Di gua ketiga, dindingnya penuh tulisan — huruf yang sama dari buku Rama.
Pertama: daftar nama. Enam belas baris, huruf digores tebal. Di bawahnya ada baris yang paling bawah — nggak selesai. Tiga huruf awal dari sesuatu yang lebih panjang. Tangan yang nulis berhenti di tengah "NO-".
Aku kenal tulisan itu. Tulisanku.
Bukan dari kehidupan ini. Dari varian lain. Dari "sebelum" yang nggak boleh kuingat — yang sistem paksa dilindas pelan-pelan. Enam belas nama yang nggak pernah kupanggil. Dan namaku sendiri, di baris paling atas, nggak berani kupikir kenapa.
Echo nggak ada di sini. Pertama kalinya dia jauh dari aku, dan diemnya terasa lebih tebal dari keramaian.
"Kau ngerasa surat, ya?"
Suara bukan dari dinding. Dari mulut — manusia. Cewek, baju seragam kelas Bumi, matanya nggak waras, ngeliat ke arah gua dari mulut cerah. Vita. Cewek yang seru-seruan pamer api itu.
"Bilang. Siapa yang ngirim kamu ke sini."
"Dia bilang: kasih tau nomor tujuh belas. Dia bilang: Daun. Mereka bilang: kamu, di daftar paling atas."
Aku ngerti terlambat.
Vita bukan dipanggil. Dia dibawa. Cewek yang dari umur awal-awal ngerasa "ada yang narik dari dalem" — ternyata bukan ngayal. Dia jadi pembawa pesan; disimpan empat tahun pelan-pelan, sampai tubuhnya hafal jalur dan mulutnya tau kapan harus nolak.
"Jangan paksa dia ngomong lebih jauh," kata Echo, entah dari mana, muncul lagi di tepi cahaya. "Orang yang nulis di dinding itu masih nelusuri tangan yang ngerusak naskahnya — dan kamu, kau salah satu naskah yang dia pengen perbaiki."
"Naskah," ulangku.
"Surat. Tubuh. Cara dia meringkas orang yang dia tunggu. Kau bukan orang ke-17, Ashira. Kau orang yang dia simpen sebagai dari awal — dan dia mulai cukup umur buat ditarik pulang tiap kali gerbang kebuka."
Aku nggak ngerti separuh. Tapi yang jelas: gerbang itu bukan jalan masuk. Jalan pulang — buat sesuatu yang dipenjarain di nadir, yang nyusun daftar nama biar tau siapa yang masih bisa ditarik.
"Aku yang nulis enam belas nama itu," kataku, ke Echo, ke dinding, ke siapa pun. "Dan baris paling atas — yang ketekuk — itu, satu-satunya yang aku inget. Nocturne."
"Justru kau nggak usah inget itu."
Dari arah Hothwood, dengung gerbang beda dari biasanya. Dalam. Pelan. Dibuka.
[SYSTEM NOTICE]
PERINGATAN AKTIVASI: GERBANG NOMOR 17 — "LEMBARAN YANG TERBUKA"
ARAH: KELUAR
KODE: DICARI DUA KALI
CUKUP: Nama dalam daftar — seleksi jiwa dimulai.
Aku mutusin. Cepat, karena aturan nggak nunggu orang yang lagi mikir:
"Aturan satu," kataku pelan. "Sementara aku di sini, dari dalam ini nggak ada yang bisa nyampe aku. Siapa yang nyoba, dia masukin dirinya sendiri ke daftar yang mereka tulis."
Bayaran: satu kenangan lagi. Ini kenangan yang kuterima dari Lisa — sepasang kaki yang genjreng di lantai apotek, sebelum dia jadi bagian dari jaringanku. Kutinggalkan di ambang pintu bayangan, dan rasa kosong di dadaku jawab sama-sama tebal.
Dinding gua ngerespon. Enam belas nama lepas — semua ngerasa aku lepas dari genggaman mereka.
Kecuali satu.
Vita nengok. Mata dia jernih lagi — dia sendiri lagi, satu detik. Lalu bibirnya ngomong, pelan, pakai nada yang bukan bahasa bumi:
"He said: ketiga belas kali kamu kabur, ke-17 dia tetap nyebut namamu. Kau pergi sama yang mana — gerbang, atau jalan pulang dia?"
Echo nengok ke aku.
"Kau milih aturan, bukan jalan," katanya. "Dan yang dia mau — kau milih yang mana di antara dua itu buat dijaga."
Aturan ngunci satu hal. Trilogi cuma satu pintu. Dan aku, yang ke-17 dari daftar yang ditulis tangan sendiri di kehidupan yang lupa — milih bagiannya.
"Gerbang," jawabku. "Jalan pulang dia aku kunci."
Dari arah Hothwood, dengung gerbang berenti.
Bukan dibuka. Dicabut — tapi nggak berbunyi. Di ujung gua, enam belas nama udah hilang. Di baris atas, nama ke-17 — sekarang dua kali ditulis. Sekali setengah. Sekali utuh.
Echo berdiri di sampingku. Di luar, langit bernapas nggak normal.
"Akibatnya?" tanyaku.
"Perubahan pay-off: jalan pulang dia pindah jauh, satu kota. Cuma sementara."
"Terus sekarang yang kita jaga?"
"Bukan gerbang," kata Echo, pelan. "Dia."
— AKHIR BAB 5 —